Saturday, November 25, 2017

My dead girlfriend keeps messaging me on Facebook. I’ve got the screenshots. I don’t know what to do.

Malam ini akan menjadi perubahan penting untuk post ini. Aku baru saja menerima pesan lagi, dan yang ini lebih parah dari yang lain.

Pacarku meninggal pada 7 Agustus 2012. Dia terlibat dalam kecelakaan 3 mobil saat pulang kerja ketika ada seseorang yang menerobos lampu merah. Dia tewas dalam hitungan menit di TKP.

Kami sudah bersama selama 5 tahun saat itu. Dia tidak terlalu memikirkan pernikahan (terasa kuno, katanya, membuatnya merasakan gelenyar aneh), tapi jika dia mau, aku pasti sudah menikahinya sejak tiga bulan hubungan kami. Dia sangat bersemangat; tipe gadis yang akan selalu memilih tantangan. Dia paling bahagia saat kemping, tapi juga seorang technophile—penggemar teknologi. Dia selalu beraroma seperti kayu manis.

Cukup dikatakan, dia tidak sempurna. Dia selalu mengatakan hal semacam, “Jika aku mati duluan, jangan hanya mengatakan hal baik tentangku. Aku tak suka. Jika kau tak menurutiku, kau yang rugi. Aku punya banyak kekurangan, dan itu adalah bagian dari diriku.” Jadi, ini untuk Em: musik yang katanya dia sukai dan musik yang memang dia sukai sangat berbeda. Cara dia menunjukkan kasih sayang adalah memeluk dari samping. Dia punya jari yang sangat panjang, seperti simpanse.

Aku tahu memang berhubungan, tapi aku tak suka membicarakan dia tanpa kalian tahu dirinya yang sesungguhnya.

Intinya, Em sudah meninggal selama hampir 13 bulan saat pertama kali dia mengirim pesan padaku.


4 September 2013.

Emily:
hello

Nathan:
Siapa ini?
Aneh sekali mendapat pesan dari akun Emily

Nathan:
??
oke, baiklah
selanjutnya, tolong kirim pesan dari akunmu jika ingin membicarakan halaman miliknya

Emily:
hello

Nathan:
Susan? Kau di akunnya Emily


Ini saat semua dimulai. Aku membiarkan akun Facebook Emily aktif agar bisa mengiriminya pesan sekali-sekali, menulis di dindingnya, melihat album-albumnya. Aku merasa sudah di penghujung waktu untuk mengenangnya (dan melupakannya). Aku ‘berbagi’ akses dengan ibunya (Susan)—yang artinya, ibunya punya akses login dan password dan telah menghabiskan sekitar 3 menit di website (atau di komputer). Setelah sedikit kebingungan, kupikir itu adalah dirinya.


    16 November 2013.

    Emily:
    hello
    ayo keluar Minggu ini

    Nathan:
    Siapa ini?

    Emily:
    the wheels on the bus

    Nathan:
    Tolong katakan siapa dirimu

    Aku menerima konfirmasi dari Susan bahwa dia tak pernah masuk ke akun Facebook Emily sejak minggu kematiannya. Em punya banyak sekali kenalan, jadi aku langsung beranggapan ini adalah salah satu ‘teman’ canggihnya yang sedang bermain-main denganku dengan cara yang paling keterlaluan.

    Aku langsung mengetahui bahwa siapapun yang mengobrol denganku hanya memposting ulang obrolanku dengan Emily dahulu.

    Komen ‘the wheels on the bus’ adalah saat kami mendiskusikan lagu yang akan kami mainkan di perjalanan yang tak pernah terwujud. ‘hello’ ditulis jutaan kali.


    Sekitar Februari 2014, Emily mulai mengetag dirinya sendiri di fotoku. Aku akan mendapat notifikasinya, tapi tagnya akan langsung dihilangkan begitu aku mengeceknya. Pertama kalinya aku memergoki satu, rasanya seperti seseorang baru saja menonjok perutku. ‘Dia’ akan mengetag dirinya sendiri di lokasi yang masuk akal menjadi tempat Emily berada, atau di tempat biasanya dia nongkrong. Aku punya dua screenshotnya (dari April dan Juni; hanya ini yang kupergoki, jadi mungkin akan keluar dari garis waktu yang ingin kutulis):

    http://i.imgur.com/X9G5agJ.png

    http://i.imgur.com/55FwXKt.png

    Pada periode itu, aku mulai tak bisa tidur. Aku terlalu marah untuk tidur.

    Dia akan mengetag dirinya di foto secara acak setiap beberapa minggu. Beberapa teman yang mengetahuinya berpikir itu adalah bug yang menjengkelkan; aku baru saja tahu bahwa ada teman yang juga mengetahuinya dan tidak berkata apa-apa. Beberapa dari mereka sudah menghapusku dari daftar pertemanan Facebook.

    Sampai di sini, beberapa dari kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku tak mematikan saja profil Facebookku. Kuharap aku bisa. Aku melakukannya sebentar. Di hari ketika aku tak bisa keluar, senang rasanya punya teman yang bisa diajak ngobrol. Senang rasanya mengunjungi halaman Em pada saat lingkaran hijau tak ada di samping namanya. Aku sudah menjadi orang yang tertutup saat Em masih hidup; kematiannya mengubah diriku menjadi nyaris seperti pertapa, dan Facebook serta MMOs adalah satu-satunya tempatku bersosial.


    Pada 15 Maret, aku mengirim pesan pada orang yang kukira peretas pesan Em.

    Nathan:
    Kenapa kau lakukan ini?
    Kenapa kau terus mengetag dirinya?


    Pada 25 Maret, aku mendapat balasan.

    Emily:
    hello

    Emily:
    hello
    hello

    Emily:
    hello

    Nathan:
    Ini sangat menyiksaku.
    Aku tak tahu kenapa kau menikmatinya.

    Emily:
    omg lilin aroma kayu manis

    Nathan:
    enyahlah

    Emily:
    Kenapa kau lakukan ini?

    Baru beberapa bulan kemudian, saat aku memeriksa percakapan itu, aku menyadari dia hanya mengulang kata-kataku.

    Tanggapanku agaknya kurang bersemangat di sini. Aku dengan sengaja membuat ‘pancingan’ emosional (‘Ini sangat menyiksaku.’) untuk membuatnya tetap bersemangat pada permainannya; aku melakukannya dengan asumsi bahwa orang yang mau melakukan ini pastilah orang yang senang atas kesusahan orang lain. Aku mengepost di forum tekno, mencari tahu cara melacak orang ini, menghubungi Facebook. Aku harus tetap menahan si pelaku agar bisa mengumpulkan ‘bukti’.

    Sebelum ada yang menjawab, ya, aku sudah mengubah password dan semua info keamanan tak terhitung banyaknya.


    16 April. Aku menerima ini.

    Emily:
    Kenapa kau lakukan ini?

    Emily:
    kita harus membuat selai kita sendiri
    astaga Samantha :/
    nggak, beda
    tak bisa lewat
    tak bisa lewat
    berapa banyak?
    pintu samping garasi
    geser
    l*
    tak bisa lewat

    Terlihat seperti gado-gado. Seperti semua percakapan kami sejauh ini, ini hanya pengulangan dari pesan yang pernah dikirm Em.


    29 April.

    Emily:
    kacang panggang di pemanggang
    Aku tak tahu. Aku Cuma bilang ‘yo tanya Nathan’
    Nathan’
    Nathan’
    Nathan

    Nathan:
    Aku tak tahu apa yang terjadi
    Aku tak tahu kenapa kau masih melakukan ini
    kumohon hentikan

    Emily:
    kumohon hentikan
    Aku tak tahu apa yang terjadi
    Nathan
    Aku tak tahu apa yang terjadi

    Aku belum menemukan petunjuk apapun. Facebook sudah memberitahuku lokasi pengakses halaman Emily, tapi sejak kematiannya, tempat-tempat itu adalah tempat yang aku kenal (rumahku, tempat kerjaku, rumah ibunya, dsb). Tanggapanku di sini bukanlah pancingan. ‘yo tanya Nathan’ adalah lelucon internal yang tak perlu dijelaskan, tapi melihatnya mengatakannya lagi benar-benar melumpuhkanku. Reaksiku di kehidupan nyata sedikit lebih baik. Aku tak mengharap hubunganku kembali.

    Beberapa pesan terakhirnya mulai membuatku takut, tapi aku tak akan mengakuinya untuk saat ini.


    8 Mei. Aku sungguh tak punya kata untuk ini.

    Emily:
    I*
    I*
    -12
    -15

    Emily:
    jumperku di dalam pengering dan sangat dingin di luar :(
    sangat dingin di luar
    dingin
    dingin
    Nathan
    tolong hentikan
    I*
    dingin
    FRE EZIN G
    Aku tak tahu apa yang terjadi

    ‘FRE EZIN G’ adalah kata asli pertama yang dia buat. Ini memberiku mimpi buruk yang baru mulai akhir-akhir ini. Aku selalu bermimpi dia sedang di dalam mobil sedingin es, membeku biru dan abu-abu, dan aku berdiri di luar dalam kehangatan menjerit padanya untuk membuka pintu. Dia bahkan tak tahu aku di sana. Kadang tungkainya akan di luar bersamaku.


    24 Mei.

    Nathan:
    Aku sangat mabuk
    Aku merindukanku
    Siapapun di akun ini, aku tak peduli
    Aku selalu pulang kerja dan berharap untuk bertemu denganmu di komputer
    haruskah aku mulai membiasakannya sekarang?

    Emily:
    biar kubantu berjalan

    Aku tidak benar-benar mabuk. Dia bukanlah gadis pengasih, dan dia selalu malu untuk mengucapkan ‘i love you’, pelukan, berbicara soal seberapa berartinya diri kami masing-masing. Dia lebih nyaman dengan semua itu saat aku sedang mabuk. Aku sering pura-pura mabuk.

    Jawaban inilah yang membuatku memutuskan untuk mememorial halamannya, mungkin ini bisa membantu mengandalikan perilaku ini. Terlihat tidak berbahaya jika dibandingkan dengan pesan-pesan sebelumnya—ini di-paste dari percakapan lama sewaktu aku berusaha meyakinkan dirinya untuk membiarkanku mengantarnya pulang dari rumah seorang teman.

    Dalam tabrakan itu, dasbor mobil menggencet tubuhnya. Tubuhnya terputus dalam garis diagonal dari pinggang kanannya ke tengah paha kirinya. Salah satu tungkainya ditemukan terselip di bawah kursi belakang.


    Ke masa lalu. 7 Agustus 2012.

    Nathan:
    Hei, kau sedang dalam perjalanan?
    Emily?

    Nathan:
    Jika sudah membaca pesan ini tolong telepon aku
    Langsung
    Aku menelepon dan mereka bilang kau pergi pukul 16
    Aku mulai panik
    Perutku mual. Tolong tolong telepon aku

    Nathan:
    Emily
    Emily
    Jawab teleponmu

    Itu adalah percakapan di hari kematiannya. Dia biasanya pulang jam 16.30. Ini, bersama beberapa pesan suara, adalah terakhir kali aku bicara padanya di bawah anggapan dia masih hidup. Kau akan tahu kenapa aku segera menunjukkan ini.


    Kemarin. 1 Juli 2014.

    Emily Memorial:
    Hei, kau sedang dalam perjalanan?

    Emily Memorial:
    Emily

    Emily Memorial:
    Saat kau membaca pesan ini tolong telepon aku
    Langsung
    kumohon hentikan
    Aku menelepon dan mereka bilang kau pergi jam 17
    Aku mulai panik
    kumohon hentikan
    dingin

    Emily Memorial:
    Emily
    Emily
    Jawab teleponmu
    Aku tak tahu apa yang terjadi
    dingin
    FREEZING

    Aku mememorial halamannya beberapa hari setelah menerima pesan soal jalan-jalan. Hingga hari ini, dia berubah diam; bahkan dia sudah tidak mengetag dirinya sendiri di fotoku.

    Aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Haruskah kumatikan halaman memorialnya? Bagaimana jika itu benar dirinya? Aku mau muntah. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi.

    Aku baru saja mendengar bunyi notifikasi Facebook. Aku terlalu takut untuk berganti jendela dan memeriksanya.

    Today I Learned: The Beheaded Can Communicate For Up to Four Minutes

    Ricky selalu terobsesi dengan hal-hal yang sangat aneh. Obsesi terakhirnya sangat kelewatan hingga aku tak bisa berhenti memikirkannya. Bahwa katanya menurut sejarawan ada efek aneh setelah pemenggalan kepala: Setelah terpisah dari kepalanya, penggalan kepala bisa mendengar, melihat, membuat ekspresi wajah dan berkomunikasi.

    Kau tidak salah baca, si orang yang kepalanya baru saja dipotong bisa melihat dan mendengarmu. Ricky sangat terobsesi dengan temuannya hingga dia meriset fenomena itu, bahkan mengutip hasil pada percobaan pemenggalan tikus, tikus bisa tetap sadar selama empat menit.

    Kukatakan pada No Sleep beberapa waktu lalu soal Ricky di Fapper. Dulunya dia adalah anak baru di SMA kami dan selalu dibully karena dia terlihat aneh. Alasannya, Ricky punya warna kuning pada kulitnya, mata dan rambutnya, dan dia juga memakai pakaian yang aneh. Tak heran jika dia menjadi sasaran penindasan. Ricky bahkan melakukan balas dendam, tapi balas dendamnya juga unik, dia tidak mengatakan apa pun atau melakukan hal fisik. Yang dia lakukan adalah menggambar sketsa gaib yang mengerikan. Mahakarya artistik yang meramalkan hari terakhir anak-anak atau mengungkapkan rahasia tergelap mereka.

    Apa yang tidak tega kutuliskan hingga sekarang adalah bagaimana Ricky meninggal. Kematian Ricky terbukti menjadi 4 menit paling jelas dan paling mengerikan dalam hidupku.

    Itu bermula saat aku datang ke rumah Ricky yang rendah dan bergaya peternakan. Hal terakhir yang kuharapkan adalah itu akan menjadi hari terakhirnya untuk selamanya, atau hari terakhir kami bersama. Saat dia membawaku ke garasinya dan menunjukkan guillotine yang terlalu jenius sebagai buatan sendiri, aku tahu bahwa bagi Ricky, sudah tak ada jalan untuk kembali.

    “Kau tak perlu melakukan apa-apa, oke?” dia berkata. “Alatnya akan bekerja saat kutarik tuas ini,” yang kemudian dia tarik, menjatuhkan pisau miring berat menuju landasan berbentuk setengah lingkaran dan mengirim listrik dingin yang merayapi punggungku. “Yang kubutuhkan darimu adalah kau tinggal duduk dan menonton, kawan.”

    “Sial, tidak.” Aku berbalik pergi. Begitu aku sampai di pintu belakang menuju dapur, Ricky mengatakan satu-satunya hal yang penting dan dengan keputusasaan yang dalam di suaranya, aku membeku.

    “Aku tak ingin mati sendirian. Kau orang terakhir yang kumiliki.” Dia benar. Ibu dan ayahnya meninggal saat dia di bangku kuliah, dia tak punya saudara, anjing terpercayanya Rukus sudah mati sebulan sebelumnya, yang artinya, aku benar-benar satu-satunya teman yang dia miliki.

    “Kau bisa duduk di sana dan... hanya di sana, agar aku tak sendirian, kemudian pergilah, tak ada seorangpun yang akan tahu.”

    Aku berjalan masuk lagi dan duduk dan melihat ke temanku yang sudah lama menderita, “Lalu apa, Ricky?”

    “Mudah, satu kedipan untuk ya, dua untuk tidak. Dan, untuk jaga-jaga, jika aku buka mulut artinya sungguh luar biasa. Aku tak akan bilang-bilang jika ternyata mengerikan, kau tak perlu tahu hal itu.”

    Aku tak sanggup bicara dan pemikiran bahwa aku akan kehilangan temanku hari itu membuatku kewalahan. Tubuhku gemetar dengan duka mendalam yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Lalu aku memandang Ricky dan melihat dia tersenyum, dia bahagia.

    “Tanyakan pertanyaan ya atau tidak, bicaralah padaku dan tanyalah apa saja. Ini kesempatan langka; ini sesuatu yang harus aku ketahui. Di semua percobaan yang kubaca, katanya aku akan punya maksimal 4 menit setelah pemotongan, jadi tanyakan apa aku merasakan sakit, apa aku melihat cahaya putih atau malaikat atau apa aku melihat rahasia kehidupan dan alam semesta.”

    “Ya ampun, Ricky, pemotongan? Ini gila, kawan.” Ricky menunduk dan mengangguk, lalu melihat padaku lagi, kali ini ada air mata di mata kuningnya yang aneh dan aku tahu aku akan membantu temanku, tak peduli betapa kacaunya hal itu.

    “Aku ingin melakukan ini sebelum rasa sakitnya mulai. Penyakit sialan yang kuderita ini, aku membaca katanya akan sangat menyiksa di akhir nanti. Aku ingin mengalahkannya dengan caraku sendiri, dengan mencurangi kematian.”

    Kami duduk-duduk selama beberapa waktu di garasi aneh itu sebelum Ricky mati. Dia sudah melakukan semua persiapannya, dia sudah merencanakan segalanya, hingga ke mana kepalanya akan mendarat—di tempat tidur Rukus si anjing tua. Rukus, anjing yang pernah menjadi temannya satu-satunya.

    Ricky akan meletakkan kepalanya miring di guillotine seperti saat dia tidur miring di ranjang. Aku akan duduk menatapnya di lantai dan kami akan berkomunikasi.

    “Kau tahu, hidupku menjadi lebih baik karena dirimu. Aku tak pernah memberitahumu itu. Ini memalukan dan aku tak pintar dengan emosi, tapi bertemu denganmu di SMA membuat semua hal kacau menjadi bisa ditoleransi.”

    Mataku penuh dengan air mata yang aku takut akan jatuh, aku tak mau ambil resiko dengan menjawab Ricky. Yang kutahu adalah, aku menyayangi Ricky dan tak akan pernah bisa mengatakannya.

    Sureal adalah rasa ketika aku melihat Ricky berlutut di guillotine, berbaring dan memiringkan kepalanya. Dia mengatur kepalanya perlahan di dasar alat prakaryanya sendiri. Kemudian, sebelum aku sempat berkedip, pisau miring sialan itu melesat turun saat Ricky berkata, “Terima ka—“

    Tapi napas Ricky terputus dan kata terakhirnya terhenti. Dalam satu detik yang janggal, kepala temanku tergeletak di tempat tidur Rukus dan matanya yang terbuka menatap mataku. Bukan mata mati. Mata cokelatku, pada mata kuningnya yang sangat hidup.

    Aku berusaha tidak melihat lehernya, tapi meski tak langsung, aku melihat darah merah di tunggul lehernya dan pusat tulang belakangnya yang putih terpotong. Tanganku gemetar tanpa sengaja saat aku memaksa diriku untuk melihat ke dalam mata Ricky.

    “Ricky, kau bisa mendengarku?” Satu kedipan cepat, untuk 'ya'. Astaga, ini pasti tak nyata.

    “Apakah sakit, seperti apa sakitmu?” aku menyembur. Ricky berkedip dua kali untuk tidak.

    “Bisakah kau melihatku?” Satu kedipan cepat.

    “Apa kau melihat malaikat atau semacamnya?” Dua kedipan.

    “Apakah aneh?” Lagi, dua kedipan untuk tidak. Kemudian dia berhenti dan syukurlah mulutnya terbuka, menampakkan giginya dan bahkan malah terlihat seperti seringai pelawak, aku tahu itu artinya apapun yang dia lihat atau rasakan, itu sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang tak perlu ditakuti.

    “Jadi, kau tidak takut?” Dua kedipan dan lagi, mulutnya terbuka. Sungguh melegakan.

    Tiba-tiba, aku kehabisan pertanyaan, tapi kami masih berkomunikasi. Ricky menatap mataku dan rasanya menenangkan, terasa aman—jika itu masuk akal. Kemudian mata Ricky tertutup dan aku khawatir jika itulah saatnya, bahwa dia pergi demi kebaikan. Aku harus memikirkan sesuatu, jadi aku berkata cepat: “Ricky apa kau melihat hal-hal sekarang, seperti rahasia alam semesta atau kehidupan atau apa saja?”

    Matanya terbuka lebih pelan kali ini dan dia berkedip sekali dan aku bersumpah mulutnya bergerak seakan dia sedang berusaha untuk bicara, aku ketakutan mengetahui bicara bukanlah hal yang bisa dia lakukan, tidak tanpa paru-parunya, jadi aku bergegas ke pertanyaanku selanjutnya, “Apakah mengerikan? Apakah mati adalah hal mengerikan?”

    Lagi, matanya membuka lebih pelan dan dia mengedip dua kali untuk tidak.

    “Apakah ada yang lain, orang lain di sekitarmu? Apa mereka orang baik?”

    Dia mengedip sekali untuk ya, tapi aku tak bisa bertanya siapa mereka, meski dia tahu orang-orang disekitarnya.

    Akhirnya, aku tak punya pertanyaan lagi, karena pada saat itu, tak ada lagi pertanyaan yang penting.

    Setelah itu, aku dan Ricky tetap bertatapan dan waktu tampaknya menyertai kami. Hingga tiba-tiba matanya melebar dan dia memandang melampauiku, dan aku melihatnya tersenyum. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang bisa dia lihat dan aku tak bisa lihat, apapun itu, yang jelas adalah hal baik. Tapi kemudian, Ricky melakukan sesuatu yang tak ada dalam rencana, dia berkedip empat kali dengan cepat sebelum dia pergi demi kebaikan. Dan begitulah Ricky meninggal.

    “Ricky? Empat? Apa arti kedipanmu! Ricky!” Aku jelas menghitungnya empat kali dan sial, dia tak pernah mengatakan apa-apa soal empat. Aku kebingungan, aku syok dan lebih besar lagi, hatiku sedih karena kehilangan temanku.

    Aku pasti duduk di sana memandanginya untuk waktu yang lama, karena saat aku bangkit untuk pergi, di luar sudah gelap. Saat aku menghidupkan lampu dapur aku melihat map di meja dengan sebuah nama tertulis.

    Di dalamnya adalah surat wasiat dan catatan Ricky. ‘Menjengkelkan aku tak pernah bisa memberitahumu betapa berartinya persahabatanmu bagiku. Terima kasih mau berteman dengan si aneh. Kau teman terbaikku. Itu arti empat kedipan, aku menyayangimu, kau teman terbaikku.’

    Ricky meninggalkan segalanya untukku, rumah, yang aku tinggali sekarang dan empat ribu dollar tunai. Setelah membayar kremasi, aku mengirim separuh uangnya ke fasilitas anak-anak terlantar setempat, separuhnya lagi untuk tempat perlindungan hewan untuk mengenang Rukus. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk pria yang hidupnya telah dipenuhi dengan kesedihan, dan aku tahu, Ricky pasti akan menyukainya.

    Saturday, November 18, 2017

    Don't Eat The School Meal


    Semua orang di sekolah menikmati makanan yang disajikan oleh kantin, dan memang kubilang semua orang. Ketika kantin menyajikan kentang goreng, taco, burger, dan makanan penuh lemak lainnya, bahkan anak-anak penderita kelainan kebiasaan makan pun ikut memakannya.
    Secara pribadi, aku tidak  mempermasalahkan makanan di sini. Aku akan melahap nacho dari sekolah dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Nacho di sini sangat lezat, dan saat saus keju dengan potongan kecil keju padat, benar-benar tampak sedap. Jika sesuatu terlewatkan.

    Tetapi, aku tidak makan siang jika menunya daging giling atau taco.

    Tidak, bukan berarti aku benci taco atau daging. Aku karnivora sepenuh hati, aku cinta daging. Tapi, aku tidak percaya pada olahan daging yang sekolah sajikan. Dari penampilannya terlihat tidak beres dan aromanya berbeda. Lebih seperti bau sesuatu yang membusuk. Aku benci aromanya karena tercium sepeti bau bangkai di jalan. Baunya tidak mengenai hidung dengan benar. Itu tersembunyi di balik tambahan bau garam dan merica dan bahan lainnya dengan aroma yang pekat.

    Rasanya juga tidak biasa. Dagingnya penuh dengan bagian keras yang terasa seperti susu, dan susah untuk di kunyah. Bagian keras ini sedikit mirip dengan tulang, tapi seperti digoreng. Saat kucoba mengunyah dagingnya, rasanya tidak sepenuhnya segar atau semacamnya. Ada sedikit rasa seperti logam. Aku memuntahkannya langsung setelah mencobanya dan aku tidak akan pernah lupa rasanya. Itu meninggalkan perasaan pahit dalam perutku. Aku berakhir sakit selama jam-jam setelahnya. Tak ada yang sadar akan rasa dan baunya kecuali aku. Aku bertanya pada orang-orang apakah mereka merasakan rasa atau bau yang aneh dari makanannya, tapi setiap orang mengabaikannya seakan itu tidak penting. Yah, itu bukan tidak penting. Itu bukan sekedar hal aneh yang kusadari cuma karena keberuntungan murni. Para guru bertingkah aneh ketika daging atau taco disajikan dalam menu, hampir seperti tampak lebih bahagia. Lebih santai. Kalian mungkin berpikir kalau mereka mungkin hanya karena mereka suka taco, tapi bukan cuma karena itu. Kau tak bisa berkata padaku kalau daging dari sekolah itu tidak apa-apa. Kau tidak bisa langsung menolak dan mengabaikan semua petunjuk ini. Sesuatu yang buruk terjadi ketika mereka mengolah daging di sekolah.

    Aku tidak mengira mungkin kalian menyadari hal ini tapi murid-murid yang sedang dalam hukuman mulai tidak masuk sekolah setelahnya. Murid-murid mulai hilang selama mereka sedang dihukum sendirian, tapi tak ada satupun yang menyadari kalau mereka menghilang karena mereka pembuat onar, tukang jahil, orang-orang yang tidak bisa diatur. Orang tua mereka sadar kalau anak mereka hilang ketika mereka tidak pulang setelah sekolah dan menghabiskan waktu mereka, lalu polisi dipanggil dan poster orang hilang mulai ditempel di tiang telepon. Mereka tidak pernah ditemukan, hidup atau mati, dan mereka tidak pernah terlihat lagi. Para guru ditanyai dan mereka berbohong. Mereka bohong kalau mereka tidak ingat anak-anak itu pernah menjalani hukuman hari itu. Polisi menutup kasusnya setelah tidak ada perkembangan dan mereka pergi. Begitu juga dengan sekolah.

    Jadi, apa kalian pernah berpikir apa yang ada dalam daging itu, dan apa yang terjadi pada anak-anak yang hilang, yang tubuhnya tidak pernah ditemukan?

    Friday, November 17, 2017

    Tanah

    "Well, halo pria kecil." Aku berlutut di sisinya. "Namaku Suzie. Kalau namamu?"
    "Aku Aiden!" Klaimnya bangga.
    "Nama yang bagus, Aiden. Maukah kamu main denganku?"
    "Ok."
    "Aku tahu permainan asik. Tapi kamu gak boleh bilang siapa-siapa, ini rahasia. Kamu bisa jaga rahasia?"
    "Ya!"
    "Oke, sekarang ikut aku dan akan kuajak kamu ke tempatnya. Aku yang setir mobilnya."
    Kutuntun si anak ke mobilku, dan ia mengikat dirinya sendiri di kursi belakang. Dengan semangat mahluk itu bertanya selagi aku menyetir.
    "Kemana kita pergi?"
    "Ke hutan. Kita akan main bersama anak-anak lain di sana."
    "Apa nama permainannya?"
    "Tanah."
    ...
    Kuhentikan mobil di sebuah setapak tanah tua, di hadapan jalan yang terlalu sempit untuk dilalui mobil.
    "Kita harus jalan dari dini, mobilnya gak muat melewati pepohonan. Tak jauh, kok."
    Mahluk itu berjalan melompat di sampingku sepanjang sisa perjalanan.
    Kemudian kami sampai di lokasi, tanah luas tanpa rumput dikelilingi pepohonan lebat. Tak jauh dari salah satu di antara barisan pepohonan yang menjulang menghalangi langit, terpampang sebuah lubang dangkal, hanya sedalam dua kaki, di sebelahnya ada setumpuk tanah yang seharusnya mengisi lubang itu.
    "Di sini. Kita bisa main sekarang."
    "Bagaimana mainnya?"
    "Kamu sembunyi di lubang itu dan menghitung sampai sepuluh. Nanti anak yang lain akan bergabung denganmu."
    Mahluk itu dengan tegang turun ke lubang, memastikan agar tidak jatuh. Ia menutupi matanya dan mulai menghitung.
    "Satu. Dua. Tiga..."
    Kumelangkah mendekati lubang, meletakkan tanganku di atas kepalanyadan mulai mendorongnya jatuh. Ia terjerembab seraya menjerit, menggores dirinya sendiri pada permukaan lemah padat. Kutekan tanganku di atas dadanya, menguncinya. Ia berteriak, tapi kami terlalu jauh untuk bisa terdengar siapapun. Semakin kutekan dia ke tanah saat ia menggelinjang, melawan, tapi semua usahanya tak berguna.
    Kuraih sekop kecil dengan tanganku yang bebas, menumpukan beratku pada tubuhnya. Kugunakan sekop untuk mengembalikan tumpukan tanah ke lubangnya. Pertama-tama kututup kakinya dulu, untuk membuatnya tak sanggup melarikan diri. Kupadatkan tanahnya dengan sekop, memastikan semua tertutupi dengan sempurna. Dan ini sempurna. Bagus. Kau tak akan menginginkan lubang yang terlalu dangkal, atau tanahnya tidak akan cukup berat untuk menahan anak itu di dalam. Terlalu dalam, dan lenganmu tak akan sanggup meraih tanah untuk mengubur si anak. Cuma sedalam dua kaki akan sempurna.
    Aku mulai bekerja di sekitaran lubang juga, mengubur dadanya terakhir ali agar aku bisa melepas tanganku. Aku berdendang seraya menyerok
    tanah ke dalam lubang. Setelah beberapa menit bekerja, teriakannya
    mulai teredam ketika wajahnya tertutup tanah. Tak lama kemudian
    suasana jadi benar-benar hening.
    Lengannya masih terangkat di permukaan, melambai-lambai kasar, tapi
    tidak bebas. Meski tidak sepenuhnya tertutup, mahluk itu tak akan bisa
    melepaskan diri. Tanah jauh lebih berat dari kelihatannya. Aku bangkit
    dan menggunakan sekop yang lrbih besar untuk mengisi celah yang
    tersisa. Dada si anak telah tertutup sempurna, kemudian lengan yang
    menyembul itu menjadi semakin pendek. Sedikit demi sedikit ia
    tertutupi, dan sedikit demi sedikit lubang terisi. Kugunakan sekop
    untuk memukul permukaannya, memastikan tanahnya padat. Memang padat.
    Bagus. Tak ada yang lebih melegakan selain mengetahui pekerjaanmu
    selesai.
    Mereka biasanya tak akan bertahan lama di dalam tanah, jadi dia pasti
    sudah kesulitan di bawah sana. Kukumpulkan peralatanku, dan mulai
    kembali ke mobil, melewati lubang-lubang yang tertutup rapi di tanah.

    Thursday, October 19, 2017

    Masked Girl

    Dont Forget to Share, Like & Comment.
    Masked Girl
    Masked Girl


    Ada seorang gadis kecil bernama Holly yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang keenam. Pada suatu malam Halloween, orang tuanya memutuskan untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka dengan makan malam di restauran. Karena saat itu Halloween, mereka kesulitan menemukan seorang pengasuh untuk menjaga putri mereka. Akhirnya, mereka menelepon seorang remaja bernama Jessica yang tinggal di ujung jalan. Lalu, mereka bertanya apakah ia bisa mengasuh anak mereka.

    Saat Jessica tiba, orang tua Holly memberinya nomor telepon genggam mereka, lalu memberitahunya untuk menghubungi mereka jika ada keadaan darurat. Setelah mereka pergi, si pengasuh memberi makan malam untuk Holly. Kemudian, ia duduk di sofa untuk menonton televisi.

    Saat Holly selesai makan, ia bertanya, "Bolehkah aku makan makanan penutup?"



    "Oke," balas Jessica. "Apa yang kau sukai?"



    "Es krim!" kata Holly sambil tersenyum lebar.



    Si pengasuh bangun untuk mencari es krim di kulkas.



    "Aku tidak bisa menemukan es krim di sini,",kata Jessica.



    "Itu ada di mesin pendingin di lantai bawah tanah," kata Holly.



    Jessica membuka pintu lantai bawah tanah, lalu memencet saklar untuk menghidupkan lampu. Tapi, lampu tidak mau menyala. Ia berjalan menuruni anak tangga yang berkeriat-keriut sampai ke ruang bawah tanah. Ia akhirnya menemukan mesin pendingin, kemudian mengangkat penutupnya. Saat ia mengeluarkan sekotak es krim vanila, mendadak ia melihat keluar jendela. Dalam kegelapan, ia melihat seorang gadis cilik dengan rambut pirang yang panjang sedang berdiri di luar.



    Gadis itu memakai kaos berwarna merah. Ia berdiri memunggungi jendela. Jessica tidak bisa melihat wajahnya, tapi ia melihat bahwa gadis itu memakai sesuatu berwarna hitam di kepalanya. Si pengasuh tidak terlalu menaruh perhatian. Saat itu malam Halloween, ada banyak anak-anak kecil yang berkeliling di sekitar sana.



    Jessica berbalik naik ke lantai atas, lalu memasukkan beberapa sendok es krim ke dalam mangkuk. Ia menaruhnya di depan Holly. Gadis kecil itu malah menatapnya.



    "Bisakah aku minta sirup cokelat?" tanya Holly.



    "Baiklah. Dimana sirup cokelatnya?" tanya Jessica.



    "Di lantai bawah tanah," balas Holly.



    Jessica patuh. Ia kembali berjalan ke lantai bawah tanah yang gelap. Saat ia sedang mencari sirup cokelat, ia menatap ke luar jendela lagi. Si gadis kecil masih berdiri di luar, tapi kali ini ia menatap jendela. Jessica melihat jika jika ia memakai sebuah topeng yang aneh. Topengnya hitam dengan garis berwarna merah. Mulutnya tertutup gambar gigi putih yang besar dan tajam. Hal itu membuat Jessica ketakutan.



    Si pengasuh telah mendapatkan sirup cokelat, sehingga ia berjalan kembali menaiki tangga. Di dapur, ia menuangkan sirup cokelat di atas es krim Holly.



    "Makasih," kata Holly. "Biasakah kau menaburkan permen di atasnya juga?"



    Jessica mengeluh. "Biar kutebak... permennya di lantai bawah tanah?"



    "Ya," kata Holly sambil terkikik.



    Si pengasuh kembali menuruni tangga ke lantai bawah tanah yang gelap. Saat ia menyusuri lemari kaca, ia melihat keluar jendela. Gadis kecil yang memakai topeng sedang berdiri di luar. Kali ini, si gadis kecil memegang sebuah pisau besar di tangannya.



    Jessica mulai merasa sangat tidak nyaman. Ia mencoba berpikir rasional. Mungkin, itu hanyalah bagian dari kostum si gadis kecil. Namun demikian, hal itu terlihat aneh karena ada orang tua yang mengizinkan anaknya berkeliling dengan menggenggam pisau. Merasa ngeri, Jessica segera naik ke lantai atas setelah menemukan permen. Ia melompati dua anak tangga sekaligus, ingin sekali keluar dari ruang bawah tanah.



    "Terima kasih!" pekik Holly gembira saat si pengasuh menaruh butiran permen di atas es krimnya. "Sekarang aku cuma butuh cherry..."



    Jessica menatap Holly dengan jengkel. "Apakah kau yakin cuma butuh itu? Ini terakhir kalinya aku turun ke ruang bawah tanah."



    "Aku janji," seringai Holly.



    Si pengasuh melangkah perlahan-lahan ke lantai bawah tanah yang gelap. Ia membuka lemari kaca untuk mencari cherry. Ia melihat keluar jendela, lalu memperhatikan bahwa tidak ada tanda-tanda dari gadis bertopeng yang menakutkan. Jessica bernapas lega. Ia senang gadis itu telah pergi. Segala situasi tadi mulai membuatnya ketakutan. Ia mengambil segenggam cherry, lalu menaiki tangga untuk terakhir kalinya.



    Saat ia memasuki dapur, ia disapa oleh pemandangan yang mengerikan. Holly menunduk di atas mangkuk es krimnya. Genangan darah menyebar di sekitar tubuhnya. Tenggorokannya yang kecil terbuka.



    Jessica menjerit. Cherry yang digenggamnya berjatuhan di lantai. Ia lari ke kamar mandi, lalu mengunci pintu di belakangnya sebelum menghubungi 911. Ia duduk di lantai, air mata mengalir di pipinya. Ia putus asa menunggu kedatangan polisi.



    Setelah kira-kira satu jam, Jessica mendengar suara sirine di luar. Lalu, pintu depan didobrak. Terdengar suara seorang polisi memanggilnya. Ia cepat-cepat membuka pintu kamar mandi. Polisi mencari ke seluruh rumah, tapi tidak ada jejak dari penyusup.



    Beberapa menit kemudian, ayah dan ibu Holly datang. Mereka terkejut melihat mayat anak perempuan mereka diusung ke dalam mobil jenazah. Si ayah terduduk di tangga luar, tangannya menutupi kepalanya. Ibunya yang histeris menghampiri Jessica. Matanya merah karena menangis.



    "Apa yang terjadi?" tanya si ibu.



    "Ya Tuhan... Saya minta maaf," kata si pengasuh. Ia gemetar karena emosi. "Saya sedang turun ke lantai bawah tanah. Saya melihat keluar jendela. Ada seorang gadis yang memakai topeng. Ia memiliki pisau. Ia hanya berdiri di luar jendela ruang bawah tanah. Ia pasti yang membunuh Holly!"



    "Tapi Jessica, itu tidak mungkin," kata ibu Holly. "Tidak ada jendela di ruang bawah tanah. Hanya sebuah cermin."